anatomikata.co.id, Takalar – Penyaluran bantuan beras Bulog di Dusun Bauluang, Desa Minasa Baji, Kecamatan Kepulauan Tanakeke, menuai protes warga. Masyarakat mencium adanya praktik tidak transparan yang melibatkan oknum perangkat desa dalam proses distribusi bantuan pangan tersebut.
Warga mengaku dipungut biaya sebesar Rp10.000 per karung oleh pihak desa. Tak hanya pungli, hak penerima juga dipangkas; warga yang seharusnya menerima dua karung beras dan hanya diberikan satu karung. Pihak desa berdalih pemotongan tersebut dilakukan demi “pemerataan” bantuan, namun kebijakan ini diambil secara sepihak tanpa musyawarah.
Hal yang paling disorot adalah dugaan manipulasi data dokumentasi. Warga dipaksa berfoto dengan dua karung beras seolah bantuan diterima utuh, meski kenyataannya mereka hanya membawa pulang separuhnya.
Berdasarkan pengakuan Masyarakat mereka difoto dengan dua karung, tapi yang dibawa pulang cuma satu. Ini jelas pembohongan data,” keluh salah satu warga.
Kini, masyarakat Dusun Bauluang mendesak Kementerian Sosial, Bulog, dan Pemerintah Kabupaten Takalar untuk segera mengusut tuntas keterlibatan kepala dusun dan perangkat desa. Warga menuntut pengembalian hak mereka serta evaluasi total agar penyaluran bansos ke depan lebih jujur dan akuntabel.
Atas permasalahan tersebut, Dewan Komando Lembaga Pergerakan Mahasiswa” Agung Setiawan” secara tegas mendesak aparat penegak hukum (APH) segera turun tangan melakukan penyelidikan menyeluruh.
Lanjutnya” Agung meminta agar dugaan penyalahgunaan bantuan pangan negara ini diusut secara transparan dan tuntas, termasuk menelusuri peran pihak-pihak yang terlibat. Jika kasus seperti ini dibiarkan tanpa penindakan hukum, maka akan membuka ruang penyalahgunaan bantuan sosial di kemudian hari serta merugikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.








