Anatomikata.co.id, Makassar – Dulu ia berdiri paling depan saat aksi turun ke jalan. Kini ia berdiri di balik wajan panas, mengaduk nasi dengan tangan sendiri.
Bang Patur, mantan aktivis yang dikenal vokal membela hak-hak rakyat kecil, memilih jalan berbeda. Ia tak lagi berorasi di tengah kerumunan. Kini, ia berdagang nasi goreng di sebuah sudut di Kab. Gowa
Pilihan itu bukan bentuk menyerah. Justru sebaliknya, itulah bentuk lain dari perlawanan melalui kemandirian dan kerja keras.
“Saya sudah lelah berteriak. Sekarang saya bekerja. Langsung, nyata, dan dekat dengan warga,” ujarnya singkat.
Bagi Bang Patur, perjuangan tidak harus selalu lewat spanduk dan mikrofon. Bisa dimulai dari dapur kecil, dari piring yang mengenyangkan orang orang yang lewat, dari obrolan ringan antara pelanggan dan penjual.
Gerobaknya bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia menjadikannya ruang untuk tetap menyuarakan nilai nilai yang ia perjuangkan sejak dulu keadilan, keberpihakan, dan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Saya masih berpihak pada rakyat. Bedanya, sekarang saya ikut hidup bersama mereka. Bukan cuma bicara soal mereka,” tegasnya.
Bang Patur membuktikan, bahwa idealisme tak harus hilang saat realitas berubah. Ia hanya berganti bentuk.








