Prestasi Kapolda Gorontalo: Maraknya Aksi Premanisme dan Gagalnya Penegakan Hukum

- Jurnalis

Kamis, 15 Mei 2025 - 12:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Ketua Umum Pengurus Wilayah Sarekat Demokrasi Indonesia (PW SDI) Gorontalo, Zulfikar S. Daday, mengeluarkan pernyataan keras terkait memburuknya kondisi keamanan di Provinsi Gorontalo. Dalam keterangannya kepada awak media, Zulfikar menegaskan bahwa Kapolda Gorontalo telah gagal total dalam menjalankan mandatnya sebagai penjaga keamanan dan penegak hukum, serta meminta yang bersangkutan untuk mundur dari jabatannya secara terhormat atau segera dicopot oleh pimpinan tertinggi Polri.

“Kapolda Gorontalo bukan hanya tidak menjalankan tugas sesuai konstitusi, tapi kami curiga justru menjadi bagian dari problem itu sendiri. Jika benar ada kongkalikong antara aparat dan pelaku kejahatan, maka itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat,” tegas Zulfikar, Rabu (14/5/2025).

Krisis Keamanan dan Budaya Impunitas
Menurut pemantauan PW SDI Gorontalo, wilayah ini tengah berada dalam situasi darurat hukum. Maraknya tambang ilegal, pembalakan liar, penyalahgunaan narkotika, dan yang paling mengkhawatirkan—peningkatan aksi kekerasan terhadap para aktivis—menunjukkan bahwa negara sedang absen dalam menunaikan peran dasarnya: melindungi warga negara.

Zulfikar menyoroti kasus terkini yang menimpa Koordinator BEM Nusantara Gorontalo, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh orang tak dikenal setelah aktif mengadvokasi isu tambang ilegal di wilayah tersebut. Bagi Zulfikar, ini bukanlah kejadian insidental, melainkan bagian dari pola sistemik pembungkaman ruang sipil yang dibiarkan tumbuh oleh aparat keamanan.

Baca Juga :  PEMUDA SULSEL SUARAKAN KEKECEWAAN TERHADAP WAKIL RAKYAT DALAM AKSI NASIONAL

“Kalau aktivis yang hanya menyuarakan keadilan saja bisa dipukul dan dibungkam, sementara pelaku tambang ilegal malah dilindungi, itu tandanya kita sedang hidup dalam logika hukum yang jungkir balik,” ucapnya.

Kolusi Aparat dan Matinya Fungsi Kontrol
Lebih jauh, PW SDI Gorontalo mencium adanya keterlibatan oknum aparat penegak hukum yang diduga menjadi beking para pelaku kejahatan lingkungan dan ekonomi ilegal. Ironisnya, ketika masyarakat sipil berusaha menyuarakan kebenaran, justru media lokal mulai bungkam, dan sejumlah pemberitaan kritis tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

“Ini bukan lagi soal kelalaian, tapi kesengajaan. Ketika berita-berita soal dugaan pelanggaran aparat tiba-tiba menghilang dari portal media, kami melihat ini sebagai bentuk sensor tidak resmi, pembungkaman yang jelas melukai demokrasi,” ungkap Zulfikar.

Ia menyebut bahwa fenomena ini menunjukkan tiga bahaya utama:

Meningkatnya budaya impunitas di kalangan aparat

Matinya fungsi pers sebagai pengontrol kekuasaan

Rusaknya kepercayaan publik terhadap institusi hukum

Sinyal Gagalnya Reformasi Kepolisian
Situasi di Gorontalo, menurut Zulfikar, adalah miniatur dari kegagalan reformasi Polri yang selama ini digaungkan. Alih-alih menjadi aparat sipil yang melindungi masyarakat, sebagian personel justru menjelma menjadi aktor kekuasaan bayangan yang lebih loyal pada pemodal, bukan pada hukum dan rakyat.

Baca Juga :  LBH Suara Panrita Keadilan Desak Evaluasi Aparat Desa Moncongkomba — “Jangan Abaikan UU Desa, Ada Konsekuensi Hukum!”

“Jangan salahkan rakyat kalau mereka akhirnya memilih diam atau memberontak. Negara yang gagal menjamin rasa aman adalah negara yang membuka pintu bagi kekacauan,” ujarnya dengan nada prihatin.

Zulfikar juga mengingatkan Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar tidak ikut menormalisasi kegagalan ini. Ia menyerukan evaluasi menyeluruh dan tindakan konkret, bukan sekadar rotasi jabatan.

Penutup: Jangan Ulangi Dosa Otoritarianisme
Kondisi Gorontalo adalah alarm keras bagi pemerintahan pusat. Jika kekerasan terhadap aktivis, pembiaran terhadap pelaku kejahatan, dan kolusi aparat terus dibiarkan, maka visi Indonesia Maju hanyalah pepesan kosong. Demokrasi lokal akan sekarat, dan publik akan kehilangan kepercayaan total pada hukum.

Prestasi Kapolda Gorontalo tidak bisa diukur dari upacara, seremoni, atau laporan indah di atas kertas. Prestasi sejati tercermin dari hadirnya rasa aman di masyarakat, ruang sipil yang sehat, dan keberanian melawan kejahatan—tak peduli siapa pelakunya.

Jika tidak segera ada tindakan tegas dari Mabes Polri dan Istana, maka Provinsi Gorontalo akan menjadi zona kelabu: tempat di mana hukum tunduk pada uang, dan aktivisme dikubur bersama harapan rakyat kecil.

Indonesia tidak akan pernah benar-benar merdeka jika para penjaga hukum justru menjadi pelanggar hukum.

Berita Terkait

“Negara Tak Boleh Kalah: Aliansi Pegiat Budaya Gugat Pembiaran Judi Sabung Ayam di Gowa”
Skandal Pemulusan Proyek Dapur MBG di Bulukumba: Aliansi Mahasiswa Sulsel Duduki Kejaksaan Tinggi Sulsel
HMI: Mandat Atau Manfaat ❓
CLAT Desak PGRI Tana Toraja Tolak Restorative Justice Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding
Anggaran Proyek Tempat Sampah Diselimuti Misteri, Transparansi anggaran harus jelas.
Insinerator di Beberapa Kecamatan Kota Makassar: Sampah Dibakar, Kesehatan Warga Dipertaruhkan ‼️
MBG, Program Bergizi Atau Skema Mark Up Terstruktur
Kongres X PERMAHI Digelar, Azhar Sidiq Terpilih sebagai Ketua Umum dengan Tagline “PERMAHI Mendunia”

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:53 WIB

“Negara Tak Boleh Kalah: Aliansi Pegiat Budaya Gugat Pembiaran Judi Sabung Ayam di Gowa”

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:14 WIB

Skandal Pemulusan Proyek Dapur MBG di Bulukumba: Aliansi Mahasiswa Sulsel Duduki Kejaksaan Tinggi Sulsel

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:13 WIB

HMI: Mandat Atau Manfaat ❓

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:51 WIB

CLAT Desak PGRI Tana Toraja Tolak Restorative Justice Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:03 WIB

Anggaran Proyek Tempat Sampah Diselimuti Misteri, Transparansi anggaran harus jelas.

Berita Terbaru

Daerah

HMI: Mandat Atau Manfaat ❓

Jumat, 6 Feb 2026 - 20:13 WIB