Wikana: Pemuda Pemberani, Menteri Pertama, dan Pejuang yang Hilang Tanpa Jejak

- Jurnalis

Selasa, 16 Desember 2025 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

anatomikata.co.id, Nama Wikana adalah salah satu yang paling bergaung dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia bukan sekadar saksi sejarah dia adalah penggerak, pendorong, dan pemuda yang berani menantang para pemimpin bangsa untuk mengambil keputusan besar. Namun, ironi sejarah menutup hidupnya dengan misteri kelam: ia menghilang tanpa jejak, diduga menjadi salah satu korban pembantaian politik paling mengerikan dalam sejarah negeri ini.

Pemuda Revolusioner dari Sumedang

Wikana lahir di Sumedang, 16 Oktober 1914, dari keluarga priyayi yang sebenarnya tidak hidup dalam kemewahan. Ayahnya, Raden Haji Sulaiman, adalah pendatang dari Demak. Salah satu kakaknya, Winanta, bahkan menjadi Digulis tanda betapa dekatnya keluarga ini dengan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.

Sejak muda, Wikana dikenal cerdas, berani, dan punya karakter keras. Ia tidak pernah menjadi penonton dalam sejarah ia menjadi pelakunya.

Pendorong Proklamasi yang Membuat Bung Karno Murka

Pada 16 Agustus 1945, Wikana menjadi salah satu tokoh pemuda yang mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Ketegasan dan desakannya sangat kuat sampai-sampai membuat Bung Karno naik pitam.

Baca Juga :  Celebes Law and Transparancy Tetapkan Rifki Ramadhan sebagai Ketua Terpilih CLAT Periode 2026–2027

Namun, sikap keras kepala itulah yang membuatnya dikenang. Tanpa keberanian para pemuda seperti Wikana, sejarah 17 Agustus mungkin akan berjalan berbeda.

Menteri Pemuda Pertama dan Tokoh PKI

Setelah Indonesia merdeka, Wikana dipercaya menjadi Menteri Negara Urusan Pemuda, jabatan yang kelak dikenal sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Ia menjadi simbol generasi muda enerjik, idealis, dan penuh gagasan.

Wikana kemudian aktif dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski pilihan politiknya menuai kontroversi, ia tetap menjadi sosok intelektual yang produktif dan aktif dalam diskursus nasional.

Peringatan Gelap Jelang G30S

Beberapa pekan sebelum meletusnya Gerakan 30 September 1965, Wikana bersama rombongan PKI pergi ke Peking (Beijing) untuk menghadiri perayaan Hari Nasional Cina. Saat kabar penculikan dan pembunuhan para jenderal meledak, mereka dilanda kebingungan.

Wikana justru mengambil keputusan berbeda:
Ia memilih pulang sendiri ke Indonesia, meski situasi sedang sangat berbahaya.

Baca Juga :  APH Takalar Diharap Usut Dugaan Penyalahgunaan Dana Bos SMPN 3 Polongbangkeng Selatan.

Keputusan itu menjadi titik balik nasibnya. Ditangkap, Lalu Hilang Tanpa Jejak

Tak lama setelah kembali ke tanah air, Wikana ditangkap. Ia sempat dibawa ke Kodam Jaya, kemudian dilepas, membuat situasinya semakin membingungkan.

Namun beberapa hari kemudian, sekelompok tentara tak dikenal datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7A, Matraman. Mereka menyeret Wikana keluar dan sejak saat itu:

Wikana lenyap dari kehidupan.
Tanpa kabar. Tanpa makam. Tanpa kepastian.

Banyak meyakini ia menjadi salah satu korban dalam pembunuhan massal 1965–1966, salah satu babak paling gelap dalam sejarah bangsa ini.

Akhir yang Tragis bagi Pemuda Pemberani

Wikana menghabiskan hidupnya dengan keberanian yang nyaris tak tertandingi:
berani mendesak Soekarno, berani melawan penjajah, berani menyuarakan aspirasinya di tengah badai politik.

Tetapi ironinya, negara yang ia bantu lahir tidak pernah memberikan jawaban atas hilangnya dirinya.

Ia pergi sebagai pejuang, dan hilang sebagai misteri sejarah.

#Wikana #PahlawanKemerdekaan #ProklamatorMuda #SejarahIndonesia
#Tragedi1965 #MisteriSejarah
#TokohNasional

Berita Terkait

“Negara Tak Boleh Kalah: Aliansi Pegiat Budaya Gugat Pembiaran Judi Sabung Ayam di Gowa”
Skandal Pemulusan Proyek Dapur MBG di Bulukumba: Aliansi Mahasiswa Sulsel Duduki Kejaksaan Tinggi Sulsel
HMI: Mandat Atau Manfaat ❓
CLAT Desak PGRI Tana Toraja Tolak Restorative Justice Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding
Anggaran Proyek Tempat Sampah Diselimuti Misteri, Transparansi anggaran harus jelas.
Insinerator di Beberapa Kecamatan Kota Makassar: Sampah Dibakar, Kesehatan Warga Dipertaruhkan ‼️
MBG, Program Bergizi Atau Skema Mark Up Terstruktur
Kongres X PERMAHI Digelar, Azhar Sidiq Terpilih sebagai Ketua Umum dengan Tagline “PERMAHI Mendunia”

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:53 WIB

“Negara Tak Boleh Kalah: Aliansi Pegiat Budaya Gugat Pembiaran Judi Sabung Ayam di Gowa”

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:14 WIB

Skandal Pemulusan Proyek Dapur MBG di Bulukumba: Aliansi Mahasiswa Sulsel Duduki Kejaksaan Tinggi Sulsel

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:13 WIB

HMI: Mandat Atau Manfaat ❓

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:51 WIB

CLAT Desak PGRI Tana Toraja Tolak Restorative Justice Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:03 WIB

Anggaran Proyek Tempat Sampah Diselimuti Misteri, Transparansi anggaran harus jelas.

Berita Terbaru

Daerah

HMI: Mandat Atau Manfaat ❓

Jumat, 6 Feb 2026 - 20:13 WIB