anatomikata.co.id, Fashion bagi Gen Z bukan sekadar penutup tubuh, melainkan medium eksistensi. Ia menjadi bahasa visual untuk menyatakan “aku ada” di tengah arus tren yang bergerak cepat. Outfit check bukan lagi soal mengikuti mode, tetapi usaha menegaskan identitas diri di ruang sosial yang serba dinilai.
Label seperti cewek kue dengan palet pastel dan kesan manis, atau gaya skena yang gelap, longgar, dan anti mainstream, menunjukkan satu hal’ identitas hari ini tidak kaku. Gen Z memaknai gaya sebagai pilihan sementara, bukan takdir permanen. Mereka bebas berpindah, mencampur, bahkan menabrak batas label itu sendiri.
Secara filosofis, fashion Gen Z mencerminkan identitas yang cair. Seperti gagasan eksistensialisme, makna diri tidak diwariskan, melainkan diciptakan. Pakaian menjadi sarana refleksi kadang jujur, kadang performatif antara keinginan untuk berbeda dan kebutuhan untuk diterima.
Di titik ini, label fashion kehilangan sifat mengikatnya. Ia bukan penentu siapa seseorang, melainkan alat untuk bereksperimen menjadi siapa pun. Bagi Gen Z, gaya bukan soal “aku ini apa”, melainkan “aku sedang menjadi apa hari ini”.








