Oleh: Muliadi
(Ketua Umum HmI Komisariat ATIM Cabang Makassar)
Usia 79 tahun adalah angka yang terlalu tua jika hanya dirayakan dengan seremoni potong tumpeng dan swafoto berbaju batik. Di balik riuh jargon “Yakin Usaha Sampai,” ada kenyataan pahit yang sering kita tutupi dengan romantisme sejarah: HMI sedang berada di persimpangan jalan yang licin. Saat ini, koridor kekuasaan terasa jauh lebih seksi daripada pengapnya ruang diskusi di komisariat.
Kita melihat fenomena yang kian lazim, di mana kader lebih bangga berfoto di kursi-kursi empuk pemerintahan ketimbang berkeringat membedah gagasan di trotoar perjuangan. Jika indeks prestasi seorang kader hanya diukur dari seberapa dekat ia dengan lingkar kuasa, lantas apa bedanya organisasi kader ini dengan ajang pencarian kerja?
Peringatan Dies Natalis ke-79 HMI seharusnya menjadi cermin yang jernih, bukan sekadar panggung untuk memoles citra. Di tengah riuh rendah perayaan, ada realitas sunyi yang perlu kita bicarakan: pergeseran orientasi kader dari meja-meja diskusi menuju selasar kekuasaan.
Kaderisasi yang Terpinggirkan
Hari ini, tantangan terbesar HMI bukan lagi soal mempertahankan kemerdekaan, melainkan mempertahankan independensi etis di hadapan pragmatisme. Ada kecenderungan yang mengkhawatirkan ketika “kesuksesan” seorang kader tidak lagi diukur dari kedalaman bacaannya atau kontribusi pemikirannya bagi umat, melainkan dari seberapa dekat ia dengan lingkaran pengambil kebijakan.
Ketajaman analisis yang seharusnya diasah di ruang perkaderan, perlahan tumpul karena digantikan oleh kemampuan beradaptasi dengan kepentingan eksternal. Ketika seorang kader lebih fasih membicarakan kalkulasi politik praktis daripada membedah problem sosiologis masyarakat, saat itulah kita harus bertanya: sedang merawat organisasi kader atau sedang membangun biro jasa politik?
Kita sering mendengar kutipan Nurcholish Madjid tentang kedalaman intelektual. Namun, dalam praktiknya, intelektualitas sering kali dianggap sebagai beban yang memperlambat langkah menuju puncak karier organisatoris maupun politik. Akibatnya, perkaderan hanya dianggap sebagai prosedur formalitas sebuah gerbang yang harus dilewati untuk mendapatkan legitimasi, bukan proses transformasi jiwa dan akal.
Upaya menjalin relasi dengan pemerintah adalah hal yang wajar dalam konteks berbangsa. Namun, ketika upaya tersebut berubah menjadi sikap yang terlalu akomodatif—bahkan cenderung permisif terhadap kebijakan yang mencederai nilai-nilai keadilan—HMI kehilangan fungsinya sebagai mitra kritis. Kader yang terlalu sibuk berselancar di arus kekuasaan sering kali lupa bahwa mandat utama mereka adalah menjadi “penyambung lidah” masyarakat, bukan sekadar menjadi “staf pendukung” kepentingan penguasa.
Kembali ke Akar: Muhasabah Kader
Perkaderan adalah jantung organisasi. Jika jantung ini berhenti berdetak karena kader-kadernya lebih memilih asupan instan dari politik praktis, maka HMI hanya akan menjadi fosil sejarah yang besar secara kuantitas namun keropos secara kualitas.
Kehadiran alumni di pemerintahan memang sebuah prestasi, namun itu bukan tujuan akhir dari proses perkaderan di tingkat mahasiswa. Tujuan kita adalah melahirkan insan yang bernafaskan Islam yang memiliki integritas moral untuk berkata “tidak” pada ketidakadilan, meskipun itu datang dari lingkaran yang dekat dengannya.
Di usia ke-79 ini, setiap kader perlu melakukan introspeksi mendalam:
1. Apakah atribut hijau-hitam yang kita kenakan adalah simbol keberanian intelektual, atau sekadar kartu akses untuk mendekati kursi kekuasaan?
2. Apakah kita masih memiliki waktu untuk membimbing adik-adik di komisariat, atau waktu kita sudah habis tersita untuk agenda-agenda lobi yang tidak ada sangkut pautnya dengan kualitas kader?
HMI tidak boleh menjadi sekadar “organisasi tangga” yang hanya dipijak untuk naik, lalu dilupakan ruhnya. Jika kita terus membiarkan budaya pragmatisme ini menggerus tradisi intelektual, kita sebenarnya sedang mempersiapkan nisan bagi masa depan HMI.
Mari jadikan momentum ini untuk pulang ke komisariat, menghidupkan kembali tradisi literasi, dan menanamkan kembali keberanian untuk berdiri tegak di atas prinsip independensi. Kekuasaan itu sementara, namun integritas sebagai kader umat dan bangsa adalah warisan yang abadi.








