anatomikata.co.id, Jakarta – Pada tanggal 24 Oktober 2025 Memasuki peringatan Hari Dokter Nasional ke-75 yang juga bertepatan dengan ulang tahun Ikatan Dokter Indonesia (IDI), berbagai kalangan reflektif terhadap perjalanan panjang pengabdian dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia. Momentum ini dinilai bukan sekadar perayaan, tetapi juga ajakan untuk memperkuat komitmen terhadap pemerataan layanan kesehatan di seluruh pelosok negeri.
Mengenang Perjuangan di Masa Pandemi
Praktisi kesehatan sekaligus Asesor Program Penugasan Khusus Dokter untuk daerah pelosok, dr. Haerul Anwar, mengingatkan bahwa sejarah pengabdian tenaga medis tidak bisa dilepaskan dari masa pandemi COVID-19.
“Pandemi menjadi masa paling menegangkan dan mengharukan dalam sejarah profesi kedokteran di Indonesia. Banyak dokter dan tenaga kesehatan gugur saat berjuang di garis depan demi menyelamatkan nyawa masyarakat,” ujarnya, Jumat (24/10).
Data dari IDI dan organisasi profesi kesehatan menunjukkan, ratusan dokter serta ribuan tenaga kesehatan termasuk perawat dan bidan meninggal dunia akibat terpapar virus saat menjalankan tugas. Pengorbanan mereka, kata Haerul, menjadi simbol nyata dedikasi dan keberanian profesi medis Indonesia.
Kemajuan dan Kesenjangan
Meski indikator kesehatan nasional menunjukkan perbaikan, seperti meningkatnya usia harapan hidup dan menurunnya angka kematian ibu dan bayi, Haerul menilai masih terjadi kesenjangan tajam dalam distribusi dokter dan fasilitas kesehatan.
“Sebagian besar dokter spesialis masih terpusat di kota besar. Sementara daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) masih kekurangan tenaga medis dan fasilitas memadai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, di sejumlah daerah terpencil, dokter dan tenaga kesehatan kerap menghadapi risiko keamanan, keterbatasan logistik, hingga ancaman keselamatan jiwa. “Ada yang harus berjalan kaki berjam-jam untuk mencapai lokasi pelayanan, bahkan menghadapi situasi sosial yang tidak aman. Ini bentuk perjuangan nyata yang sering tak terlihat publik,” tambahnya.
Seruan untuk Pemerataan Kesehatan
Dalam momentum Hari Dokter Nasional kali ini, IDI dan para praktisi kesehatan menyerukan tiga langkah prioritas untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, yakni:
- Pemerataan distribusi dokter dengan kebijakan insentif dan program penugasan khusus yang efektif di daerah 3T.
- Peningkatan infrastruktur kesehatan agar setiap puskesmas dan rumah sakit memiliki fasilitas dan alat memadai.
- Perlindungan dan kesejahteraan tenaga kesehatan, termasuk jaminan keamanan fisik dan hukum di wilayah berisiko tinggi.
“Dokter adalah denyut nadi bangsa. Agar nadi itu terus berdetak kuat, mereka harus didukung dengan kebijakan, fasilitas, dan perlindungan yang adil,” tutur Haerul.
Harapan di Usia ke-75
Haerul menilai usia ke-75 tahun menjadi momentum reflektif bagi profesi dokter di Indonesia untuk terus berkarya membangun kesehatan bangsa. Ia berharap sinergi antara IDI, pemerintah, dan masyarakat semakin kokoh dalam mewujudkan sistem kesehatan yang berkeadilan.
“Semangat pengabdian tidak boleh padam. Di setiap denyut nadi rakyat Indonesia, ada tangan dokter yang bekerja dengan hati dan menyalakan harapan bagi masa depan bangsa,” ujarnya menutup pernyataan.








