anatomikata.co.id, Makassar – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Koordinator Komisariat Universitas Bosowa secara terbuka menyatakan sikap tegas kepada publik: menolak segala bentuk penetrasi politik dinasti yang dimotori oleh Geng Solo beserta jejaring kekuasaannya di Sulawesi Selatan. Sikap ini merupakan bentuk perlawanan terhadap degradasi demokrasi dan matinya kedaulatan rakyat.
Penolakan tersebut berpijak pada nilai Siri’ na Pacce, falsafah luhur masyarakat Sulawesi Selatan yang menjunjung tinggi kehormatan, solidaritas, dan keberpihakan pada penderitaan rakyat. Bagi HMI, nilai ini adalah harga diri yang tidak bisa ditawar. Saat ketidakadilan dibiarkan, kehormatan dan nurani kolektif masyarakat Sulsel ikut dikhianati.
HMI Korkom Unibos menilai demokrasi Indonesia saat ini berada di titik kritis. Upaya melanggengkan kekuasaan melalui politik keluarga, manipulasi hukum, dan penguatan oligarki politik dinilai sebagai ancaman nyata bagi masa depan republik. Sulawesi Selatan, dalam spirit Siri’ na Pacce, tidak boleh dijadikan ladang subur bagi praktik politik dinasti dan kekuasaan yang menindas kehendak rakyat.
Dengan sikap tegas, HMI Korkom Unibos menolak normalisasi kekuasaan Geng Solo dan seluruh jejaring elitnya yang berupaya menanamkan pengaruh politik di Sulawesi Selatan, baik melalui struktur formal kekuasaan maupun jalur politik pragmatis yang mengorbankan prinsip demokrasi. Bagi HMI, diam atas ketidakadilan berarti hilangnya Siri’, dan tunduk pada penindasan adalah matinya Pacce.
HMI juga menolak segala bentuk upaya pemilihan kepala daerah melalui DPR. Skema tersebut dinilai mencederai hak politik rakyat dan menjadi kemunduran serius bagi demokrasi lokal. Kepala daerah harus lahir dari kedaulatan rakyat, bukan dari transaksi elite politik yang bertentangan dengan nilai keadilan dan keberanian moral.
Aksi yang dilakukan hari ini ditegaskan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan historis mahasiswa sebagai penjaga nurani bangsa serta penjaga kehormatan rakyat Sulawesi Selatan. Ini bukan aksi simbolik semata, melainkan peringatan keras bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam melihat demokrasi diperkosa oleh kekuasaan yang rakus. Bagi mereka, lebih baik berdiri melawan ketidakadilan daripada hidup tanpa kehormatan.








