RAKYAT MEMANGGIL: WARGA LOMPO TENGAH KEPUNG AREA TAMBANG, TUNTUT TRANSPARANSI DAN TOLAK EKSPLOITASI

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 23:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anatomikata.co.id, Lompo Tengah – Gelombang perlawanan rakyat pecah di Dusun Lumpajae, Desa Lompo Tengah. Puluhan warga yang tergabung dalam koalisi masyarakat Bertindak turun langsung mengepung area pertambangan, menandai puncak kemarahan atas aktivitas tambang yang dinilai mengancam lingkungan dan masa depan generasi setempat.

Massa aksi memadati pintu masuk tambang sejak Siang hari, membentuk barikade manusia sebagai simbol perlawanan terhadap praktik eksploitasi yang dianggap mengabaikan hak-hak warga. Aksi ini dipimpin oleh dua tokoh pemuda, Agus Salim dan Andi Fitra Ramadan, yang secara tegas menyatakan bahwa gerakan ini adalah bentuk akumulasi kemarahan rakyat, bukan sekadar aksi simbolik.

Baca Juga :  BEM STIPER Berau Soroti Dugaan Peredaran Miras Ilegal di Kabupaten Berau

Dalam orasinya, “Agus Salim menegaskan bahwa keberadaan tambang telah memicu keresahan serius di tengah masyarakat. Ancaman terhadap ekosistem, sumber air, dan ruang hidup warga menjadi alasan utama penolakan yang tidak bisa ditawar.
Situasi sempat memanas ketika massa mendesak masuk ke Area utama masuknya Mobil yang membawa sirtu, menuntut agar pihak perusahaan tambang keluar dan bertemu langsung dengan warga. Massa menolak keras segala bentuk komunikasi tertutup dan menilai dialog terbuka di hadapan rakyat sebagai satu-satunya bentuk tanggung jawab yang sah.

“Kami tidak butuh janji kosong atau dokumen formal yang dibuat sepihak. Kami menuntut pihak perusahaan hadir di sini, berdiri di hadapan rakyat, dan menjelaskan dasar moral mereka merusak tanah yang bukan milik mereka,” tegas Andi Fitra Ramadan saat memimpin massa.

Baca Juga :  Simposium Kepemudaan 2025

Hingga rilisan ini diterbitkan, situasi di Lompo Tengah masih dalam kondisi siaga. Warga menyatakan akan terus bertahan dan menduduki area hingga tuntutan mereka dipenuhi. Mereka menegaskan bahwa kedaulatan atas tanah, air, dan udara bukan komoditas yang bisa ditukar dengan investasi.
Aksi ini dipastikan bukan yang terakhir. Jika suara rakyat terus diabaikan, gelombang perlawanan yang lebih besar akan menyusul

Berita Terkait

Polantas Gowa Tingkatkan Kualitas Layanan Publik, Warga Diberi Pendampingan Langsung di Samsat
KNPI Bontoala Gandeng Universitas Famika, Hadirkan Program Beasiswa untuk Pemuda Kurang Mampu
Jeritan Warga Babangeng Menggema di Depan Kantor Bupati Bantaeng, Tuntut Janji Perbaikan Jalan yang Tak Kunjung Terwujud
Resmi! Presiden Prabowo Rombak Pimpinan Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang Jadi Kepala Baru
Bongkar Mafia Solar Lintas Provinsi, Penyidik Dirreskrimsus Polda Sulsel Justru Dimutasi
DPD PTI Kaltim Soroti Anjloknya Harga TBS di Tengah Keterbukaan Informasi Industri Sawit
BINUS, IPNU, dan RW 01 Buloa Kolaborasi Tebar Kepedulian Melalui Kurban Iduladha
Kasus Berdarah di Jeneponto, Korban Pembacokan Justru Diduga Dibebani Permintaan Uang

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 00:07 WIB

Polantas Gowa Tingkatkan Kualitas Layanan Publik, Warga Diberi Pendampingan Langsung di Samsat

Senin, 8 Juni 2026 - 16:03 WIB

KNPI Bontoala Gandeng Universitas Famika, Hadirkan Program Beasiswa untuk Pemuda Kurang Mampu

Rabu, 3 Juni 2026 - 12:17 WIB

Jeritan Warga Babangeng Menggema di Depan Kantor Bupati Bantaeng, Tuntut Janji Perbaikan Jalan yang Tak Kunjung Terwujud

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:45 WIB

Resmi! Presiden Prabowo Rombak Pimpinan Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang Jadi Kepala Baru

Senin, 1 Juni 2026 - 19:55 WIB

Bongkar Mafia Solar Lintas Provinsi, Penyidik Dirreskrimsus Polda Sulsel Justru Dimutasi

Berita Terbaru