Anatomikata.co.id, Lompo Tengah – Gelombang perlawanan rakyat pecah di Dusun Lumpajae, Desa Lompo Tengah. Puluhan warga yang tergabung dalam koalisi masyarakat Bertindak turun langsung mengepung area pertambangan, menandai puncak kemarahan atas aktivitas tambang yang dinilai mengancam lingkungan dan masa depan generasi setempat.
Massa aksi memadati pintu masuk tambang sejak Siang hari, membentuk barikade manusia sebagai simbol perlawanan terhadap praktik eksploitasi yang dianggap mengabaikan hak-hak warga. Aksi ini dipimpin oleh dua tokoh pemuda, Agus Salim dan Andi Fitra Ramadan, yang secara tegas menyatakan bahwa gerakan ini adalah bentuk akumulasi kemarahan rakyat, bukan sekadar aksi simbolik.
Dalam orasinya, “Agus Salim menegaskan bahwa keberadaan tambang telah memicu keresahan serius di tengah masyarakat. Ancaman terhadap ekosistem, sumber air, dan ruang hidup warga menjadi alasan utama penolakan yang tidak bisa ditawar.
Situasi sempat memanas ketika massa mendesak masuk ke Area utama masuknya Mobil yang membawa sirtu, menuntut agar pihak perusahaan tambang keluar dan bertemu langsung dengan warga. Massa menolak keras segala bentuk komunikasi tertutup dan menilai dialog terbuka di hadapan rakyat sebagai satu-satunya bentuk tanggung jawab yang sah.
“Kami tidak butuh janji kosong atau dokumen formal yang dibuat sepihak. Kami menuntut pihak perusahaan hadir di sini, berdiri di hadapan rakyat, dan menjelaskan dasar moral mereka merusak tanah yang bukan milik mereka,” tegas Andi Fitra Ramadan saat memimpin massa.
Hingga rilisan ini diterbitkan, situasi di Lompo Tengah masih dalam kondisi siaga. Warga menyatakan akan terus bertahan dan menduduki area hingga tuntutan mereka dipenuhi. Mereka menegaskan bahwa kedaulatan atas tanah, air, dan udara bukan komoditas yang bisa ditukar dengan investasi.
Aksi ini dipastikan bukan yang terakhir. Jika suara rakyat terus diabaikan, gelombang perlawanan yang lebih besar akan menyusul









