MBG, Program Bergizi Atau Skema Mark Up Terstruktur

- Jurnalis

Kamis, 5 Februari 2026 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Muh Ikbal,
“Pengurus Besar HMMI, Ketua Bidang Politik, Hukum & Demokrasi”

anatomikata.co.id, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dipromosikan sebagai solusi mulia untuk masa depan anak-anak Indonesia. Negara hadir memastikan siswa mendapat asupan gizi layak agar tumbuh sehat dan cerdas. Namun di lapangan, gambaran ideal itu mulai retak.

Tak sedikit siswa menerima menu yang jauh dari kata bergizi. Satu potong tempe, seiris tahu, dan lauk ayam dengan porsi nyaris simbolis. Bukan hanya kurang mengenyangkan, tapi juga minim nilai gizi. Padahal anggaran negara untuk program ini tidak kecil.

Baca Juga :  Mahasiswa Peduli Keadilan Gelar Aksi, Soroti Dugaan Pungli di BPN Gowa

Masalahnya bukan sekadar menu. Banyak pihak menduga praktik mark up harga di level mitra dapur menjadi biang keladi. Harga bahan baku dinaikkan di atas kewajaran, sementara porsi makanan ditekan serendah mungkin. Yang dirugikan jelas: siswa.

Keluhan pun bermunculan. Menu monoton, rasa seadanya, dan porsi yang tak cukup untuk menunjang aktivitas belajar. Program yang seharusnya menjadi penyemangat justru berubah jadi sumber kekecewaan.

Ironi lain muncul ketika MBG diklaim mampu menggerakkan ekonomi lokal dan memberdayakan UMKM. Faktanya, pelaku UMKM justru merasa tertekan. Harga bahan pangan ditekan serendah mungkin, margin dipersempit, sementara keuntungan besar diduga hanya berputar di segelintir mitra dapur. UMKM lokal lebih sering jadi pelengkap administrasi ketimbang penerima manfaat nyata.

Baca Juga :  Wisata Permandian Diduga Milik BUMDes Kampong Parang Terlibat Pelanggaran Lingkungan

Jika kondisi ini dibiarkan, MBG berpotensi kehilangan ruhnya. Program gizi berubah menjadi proyek bisnis, dan anak-anak yang seharusnya menjadi pusat perhatian justru menjadi korban.

MBG seharusnya bicara soal gizi, keadilan, dan masa depan generasi. Bukan sekadar laporan serapan anggaran. Transparansi, pengawasan ketat, dan keberpihakan nyata pada siswa serta UMKM lokal bukan pilihan tambahan, tapi keharusan.

Berita Terkait

“Negara Tak Boleh Kalah: Aliansi Pegiat Budaya Gugat Pembiaran Judi Sabung Ayam di Gowa”
Skandal Pemulusan Proyek Dapur MBG di Bulukumba: Aliansi Mahasiswa Sulsel Duduki Kejaksaan Tinggi Sulsel
HMI: Mandat Atau Manfaat ❓
CLAT Desak PGRI Tana Toraja Tolak Restorative Justice Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding
Anggaran Proyek Tempat Sampah Diselimuti Misteri, Transparansi anggaran harus jelas.
Insinerator di Beberapa Kecamatan Kota Makassar: Sampah Dibakar, Kesehatan Warga Dipertaruhkan ‼️
Kongres X PERMAHI Digelar, Azhar Sidiq Terpilih sebagai Ketua Umum dengan Tagline “PERMAHI Mendunia”
Aliansi Mahasiswa Sulsel Geram ❗️ Dugaan Jual Beli Dapur Di Kabupaten Bulukumba. Program Di Jadikan Komoditas

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:53 WIB

“Negara Tak Boleh Kalah: Aliansi Pegiat Budaya Gugat Pembiaran Judi Sabung Ayam di Gowa”

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:14 WIB

Skandal Pemulusan Proyek Dapur MBG di Bulukumba: Aliansi Mahasiswa Sulsel Duduki Kejaksaan Tinggi Sulsel

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:13 WIB

HMI: Mandat Atau Manfaat ❓

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:51 WIB

CLAT Desak PGRI Tana Toraja Tolak Restorative Justice Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:03 WIB

Anggaran Proyek Tempat Sampah Diselimuti Misteri, Transparansi anggaran harus jelas.

Berita Terbaru

Daerah

HMI: Mandat Atau Manfaat ❓

Jumat, 6 Feb 2026 - 20:13 WIB