Industri Gula Aren yang Kian Menurun di Tamarunang, Kabupaten Jeneponto

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

anatomikata.co.id, Jeneponto – Di balik perbukitan dan hamparan tanah kering Kabupaten Jeneponto, tepatnya di Tamarunang, gula aren pernah menjadi denyut hidup masyarakat. Ia bukan sekadar hasil olahan dari nira pohon aren, melainkan bagian dari warisan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari dapur-dapur sederhana yang mengepul sejak pagi, lahirlah manis yang dahulu menghidupi banyak keluarga.

Namun hari ini, denyut itu perlahan melemah.

Industri gula aren di Tamarunang sedang menghadapi penurunan yang tidak bisa dianggap sepele. Aktivitas produksi yang dulu akrab dengan suara tungku kayu, percikan api, dan kesibukan para pengrajin, kini mulai kehilangan gaungnya. Banyak pelaku usaha tradisional tidak lagi mampu bertahan di tengah perubahan zaman yang bergerak terlalu cepat, sementara mereka masih berjalan dengan alat, cara, dan pasar yang lama.

Penurunan ini bukan semata karena masyarakat tidak lagi mengenal gula aren, melainkan karena industri ini terjepit di antara banyak persoalan. Mulai dari minimnya regenerasi tenaga kerja, berkurangnya minat anak muda untuk melanjutkan usaha orang tua, hingga keterbatasan alat produksi yang membuat proses pengolahan menjadi lambat dan tidak efisien. Di saat dunia menuntut kualitas, kemasan, dan daya saing pasar yang lebih tinggi, sebagian besar pengrajin gula aren di Tamarunang masih berjuang hanya untuk mempertahankan produksi harian.

Baca Juga :  Samsat Gowa Klarifikasi Isu “Berkas Mandek”, Tegaskan Komitmen Pelayanan Transparan

Masalah lain yang tak kalah besar adalah akses pemasaran yang terbatas. Produk gula aren lokal sering kali hanya berputar di pasar tradisional atau dijual dalam lingkup yang sempit. Padahal, secara nasional dan bahkan global, permintaan terhadap gula aren justru menunjukkan prospek yang cukup baik bila didukung inovasi, standarisasi mutu, dan penguatan rantai pasok. Berbagai kajian juga mencatat bahwa industri gula aren skala kecil di Indonesia dan Sulawesi Selatan umumnya terkendala pada kualitas yang tidak konsisten, teknologi pengolahan yang tertinggal, keterbatasan modal, dan lemahnya akses pasar.

Di Tamarunang, keadaan ini terasa lebih sunyi karena gula aren sesungguhnya bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga identitas lokal. Saat industri ini melemah, yang ikut surut bukan hanya penghasilan masyarakat, melainkan juga nilai budaya, pengetahuan tradisional, dan kebiasaan hidup yang selama ini membentuk wajah kampung. Pohon aren yang dulu dijaga karena menjanjikan penghidupan, kini perlahan kehilangan perhatian. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin industri ini akan tinggal cerita dikenang sebagai sesuatu yang pernah besar, namun gagal dipertahankan.

Baca Juga :  OKP Pemuda Islam Tolak Rencana Pelantikan DPD KNPI Sulsel Versi Musda Manunggal

Yang paling menyedihkan, penurunan industri gula aren di Tamarunang sering kali terjadi bukan karena ia tidak punya masa depan, tetapi karena ia tidak cukup didampingi untuk bertumbuh. Padahal, dengan sentuhan teknologi tepat guna, pelatihan pengemasan, penguatan pemasaran digital, pembentukan kelompok usaha, dan dukungan pemerintah desa maupun daerah, gula aren Tamarunang sesungguhnya masih punya peluang untuk bangkit. Sebab yang dibutuhkan oleh industri kecil seperti ini bukan hanya tenaga, tetapi juga arah.

Tamarunang sedang berada di persimpangan: membiarkan industri gula arennya perlahan redup, atau menghidupkannya kembali sebagai kekuatan ekonomi lokal yang berakar pada tradisi. Karena sesungguhnya, di balik sepotong gula aren, ada cerita panjang tentang kerja keras, ketahanan, dan harapan masyarakat desa yang tidak seharusnya dibiarkan hilang begitu saja.

Berita Terkait

Gedung DPRD Lutra Tercoreng, Aktivis Pengkritik Mafia BBM Diduga Dikeroyok Orang Suruhan SPBU
BEM STIPER Berau Soroti Dugaan Peredaran Miras Ilegal di Kabupaten Berau
Rayakan Hari Kartini 2026, Kelurahan Pa’baeng-baeng Laksanakan Kegiatan Edukatif Bersama Masyarakat
Anak Laki-laki 8 Bulan Dipisahkan Dari Orang Tua Di Maros, Kuasa Hukum Sigap Menyikapi Permasalahan Ini
Sejarah Pemilu Indonesia dan Transformasi Asas Luber Jurdil
500 Pengurus KNPI Sulsel Bersama Vonny ameliani : “Penyatuan Pemuda Dari Timur, Kebanggaan Besar Bisa Bersama 3 Ketua Umum DPP KNPI dalam Satu Meja”
Jalan Daeng Ngeppe Memprihatinkan: Warga Pinggir Kanal Desak Pemkot Makassar Bertindak Nyata
Apa Yang Terjadi Dengan PAN Sulsel? Ashabul Kahfi Kembali Menjadi PLT Ketua

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:38 WIB

Gedung DPRD Lutra Tercoreng, Aktivis Pengkritik Mafia BBM Diduga Dikeroyok Orang Suruhan SPBU

Minggu, 10 Mei 2026 - 23:54 WIB

BEM STIPER Berau Soroti Dugaan Peredaran Miras Ilegal di Kabupaten Berau

Minggu, 10 Mei 2026 - 18:59 WIB

Rayakan Hari Kartini 2026, Kelurahan Pa’baeng-baeng Laksanakan Kegiatan Edukatif Bersama Masyarakat

Minggu, 10 Mei 2026 - 18:53 WIB

Anak Laki-laki 8 Bulan Dipisahkan Dari Orang Tua Di Maros, Kuasa Hukum Sigap Menyikapi Permasalahan Ini

Minggu, 10 Mei 2026 - 02:07 WIB

Sejarah Pemilu Indonesia dan Transformasi Asas Luber Jurdil

Berita Terbaru

Uncategorized

Sejarah Pemilu Indonesia dan Transformasi Asas Luber Jurdil

Minggu, 10 Mei 2026 - 02:07 WIB