Pemekaran Biringkanaya dan Ujian Pelayanan Publik

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 3 April 2026 - 19:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

anatomikata.co.id,Makassar-Rencana pemekaran Kecamatan Biringkanaya di Kota Makassar kembali menguat. Secara administratif, langkah ini mudah dipahami. Jumlah penduduk telah melampaui 200 ribu jiwa dengan cakupan wilayah yang luas. Dalam kondisi seperti ini, beban pelayanan publik tentu tidak ringan.

 

Namun, pemekaran wilayah tidak cukup hanya dibenarkan oleh angka. Ia perlu diuji pada satu hal yang lebih mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar akan memperbaiki akses pelayanan bagi masyarakat.

 

Di banyak daerah, pemekaran kerap dipandang sebagai solusi cepat. Struktur baru dibentuk, wilayah dibagi, dan pemerintahan diperluas. Akan tetapi, tidak sedikit pula kasus di mana pemekaran berhenti pada aspek administratif, tanpa diikuti perbaikan nyata dalam kualitas pelayanan.

 

Biringkanaya berhadapan dengan risiko yang sama.

 

Masalah utama yang dihadapi wilayah ini bukan semata jumlah penduduk atau luas wilayah, melainkan ketimpangan akses. Warga di kawasan tertentu masih harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengurus administrasi dasar. Pada saat yang sama, wilayah lain menghadapi tekanan pertumbuhan yang cepat, sehingga kebutuhan pelayanannya meningkat.

Baca Juga :  Diamnya Prodi Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar: Antara Ketidakberanian dan Pembiaran atas Tindakan Tidak Bermoral Ketua HMPS

 

Dengan karakter wilayah yang beragam—mulai dari kawasan urban yang padat, koridor pertumbuhan ekonomi, hingga wilayah pesisir—Biringkanaya saat ini menanggung beban yang tidak seragam dalam satu struktur pemerintahan.

 

Dalam konteks ini, pemekaran memang relevan. Namun, cara pemekaran dilakukan menjadi sangat menentukan.

 

Jika pemekaran hanya menghasilkan dua kecamatan, persoalan dasar belum tentu terpecahkan. Salah satu wilayah tetap akan menanggung beban besar, sementara wilayah baru harus segera beradaptasi dengan tekanan pelayanan yang tinggi. Dalam praktiknya, kondisi seperti ini sering kali hanya memindahkan beban, bukan menguranginya.

 

Pendekatan yang lebih menjanjikan adalah pemekaran berbasis karakter wilayah. Artinya, pembagian tidak hanya mempertimbangkan jumlah penduduk, tetapi juga fungsi dan kebutuhan tiap kawasan.

 

Dalam kerangka ini, Biringkanaya dapat dibayangkan terbagi menjadi tiga klaster. Kawasan koridor pertumbuhan di sekitar Daya dan Paccerakkang, kawasan permukiman yang relatif stabil di sekitar Sudiang, serta kawasan pesisir seperti Bulurokeng dan Untia yang memiliki kebutuhan layanan berbeda.

Baca Juga :  Bendahara SMP Negeri 3 Takalar, Polongbangkeng Selatan Seakan Menantang. Penggiat Anti Korupsi Yang Melaporkan Dugaan Korupsi Dana Bos.

 

Dengan pembagian seperti ini, pelayanan publik dapat dirancang lebih spesifik. Wilayah dengan pertumbuhan tinggi dapat difokuskan pada layanan perizinan dan administrasi kependudukan yang cepat. Sementara wilayah pesisir dapat memperoleh perhatian lebih pada layanan sosial dan infrastruktur dasar.

 

Lebih dari itu, pendekatan ini berpotensi memperpendek jarak antara masyarakat dan pusat pelayanan. Ini penting, karena dalam praktik sehari-hari, kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh prosedur, tetapi juga oleh kemudahan akses.

 

Pada akhirnya, pemekaran wilayah bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat. Keberhasilannya ditentukan oleh sejauh mana ia mampu mendekatkan pemerintah kepada masyarakat dan mempercepat pelayanan.

 

Karena itu, rencana pemekaran Biringkanaya seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa kecamatan yang akan dibentuk”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah setelah pemekaran, warga benar-benar lebih mudah mengakses pelayanan publik.

 

Jika jawabannya ya, maka pemekaran layak dilanjutkan. Jika tidak, maka kebijakan ini perlu dikaji ulang.

 

Penulis : MNK

Berita Terkait

Wujud Ikhtiar Hadapi Kemarau, PC LDII Tamalate Gelar Sholat Istisqo Bersama Pemerintah dan Pimpinan Wilayah
Outlet ke-25 Browcyl Hadir di Villa Mutiara, Ratusan Paket Promo Disiapkan
Walikota Makassar Beri Kuliah Umum di Universitas Cokroaminoto Makassar
ALIANSI MAHASISWA UNIVERSITAS WIRA BHAKTI SOROT KRISIS ENERGI DI MAKASSAR “ENERGI KRISIS, DOMPET KRITIS, PEJABAT NARSIS”
Aksi BBM Berujung Darah, Kader HMI Makassar Diduga Dipukul Oknum Polisi di Pertamina Patra Niaga ‎
Husnul Mubarak Ketua Sapma PP Kota Makassar: Dugaan Kelalaian Pengawasan Tera dan Tera Ulang oleh Disperindag Sulsel, Antrean Panjang BBM Terjadi di Sejumlah SPBU Kota Makassar
Antrean BBM Berjam-jam di Sulsel, PB HMMI Pertanyakan Klaim Stok Aman
REKLAMASI METRO TANJUNG BUNGA DISOROT, ALIANSI MAHASISWA DAN PEMUDA MAKASSAR DESAK KEJATI SULSEL BONGKAR TUNTAS PT DILLAH GROUP

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 16:28 WIB

Wujud Ikhtiar Hadapi Kemarau, PC LDII Tamalate Gelar Sholat Istisqo Bersama Pemerintah dan Pimpinan Wilayah

Jumat, 18 September 2026 - 17:13 WIB

Outlet ke-25 Browcyl Hadir di Villa Mutiara, Ratusan Paket Promo Disiapkan

Rabu, 16 September 2026 - 20:47 WIB

Walikota Makassar Beri Kuliah Umum di Universitas Cokroaminoto Makassar

Senin, 14 September 2026 - 20:04 WIB

Aksi BBM Berujung Darah, Kader HMI Makassar Diduga Dipukul Oknum Polisi di Pertamina Patra Niaga ‎

Sabtu, 12 September 2026 - 18:15 WIB

Husnul Mubarak Ketua Sapma PP Kota Makassar: Dugaan Kelalaian Pengawasan Tera dan Tera Ulang oleh Disperindag Sulsel, Antrean Panjang BBM Terjadi di Sejumlah SPBU Kota Makassar

Berita Terbaru