Diamnya Prodi Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar: Antara Ketidakberanian dan Pembiaran atas Tindakan Tidak Bermoral Ketua HMPS

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 2 April 2026 - 19:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

anatomikata.co.id Makassar – Kasus tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar, berinisial SS (22), bukan lagi sekadar isu yang diperdebatkan melainkan fakta yang telah terbuka di hadapan publik mahasiswa.

Beredarnya tangkapan layar percakapan yang memuat kata-kata tidak pantas dan merendahkan terhadap seorang perempuan menjadi bukti konkret atas perilaku yang mencederai nilai etika, moralitas, dan martabat manusia. Ini bukan ruang tafsir, bukan pula persoalan salah paham ini adalah bentuk nyata dari tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh seorang pemimpin organisasi mahasiswa.

Lebih jauh, pengakuan kesalahan yang disampaikan dalam ruang internal organisasi semakin menegaskan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk mereduksi persoalan ini sebagai isu yang “belum jelas” atau “masih simpang siur”. Fakta telah berbicara.

Namun, di tengah terang-benderangnya fakta tersebut, Program Studi Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar justru memilih untuk diam. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada langkah tegas, tidak ada keberanian untuk berdiri di atas nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh institusi akademik.

Baca Juga :  Narasi Sesat Seret Nama SBY, Isu Ijazah Jokowi Kembali Dipelihara

Sikap diam ini bukan netralitas. Sikap diam adalah keberpihakan dan dalam konteks ini, diam berarti berpihak pada pembiaran.

Ketika tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh seorang pemimpin organisasi mahasiswa tidak direspons secara tegas, maka yang sedang dipertontonkan kepada publik bukan hanya kegagalan individu, tetapi juga kegagalan institusi dalam menjaga integritasnya. Diamnya program studi menjadi sinyal bahwa pelanggaran etika dapat dinegosiasikan, bahwa moralitas bisa ditawar, dan bahwa kekuasaan dalam organisasi mahasiswa dapat berdiri di atas pembiaran.

Ini adalah preseden yang berbahaya.

Program Studi Ilmu Politik seharusnya menjadi ruang yang melahirkan kesadaran kritis, keberanian moral, dan integritas intelektual. Namun dalam kasus ini, yang tampak justru sebaliknya: ketidakberanian untuk bersikap, ketidaktegasan dalam bertindak, dan kegagalan dalam menjaga marwah institusi.

Jika institusi akademik tidak mampu bersikap tegas terhadap pelanggaran yang terjadi di depan mata, maka pertanyaan mendasar patut diajukan: nilai apa yang sebenarnya sedang dijaga?

Lebih dari itu, pembiaran terhadap tindakan seperti ini menciptakan rasa tidak aman bagi seluruh mahasiswa, khususnya perempuan, di lingkungan kampus. Ketika pelaku tidak mendapatkan konsekuensi yang jelas, maka ruang akademik kehilangan legitimasi moralnya sebagai tempat yang aman dan bermartabat.

Baca Juga :  BEM FISEH Universitas Cokroaminoto,Gebrak DPRD Kota Makassar! Gerakan Baru Mahasiswa: "Bangkit Dan Sadarlah Mahasiswa Makassar! "

Oleh karena itu, tidak ada lagi ruang untuk sikap abu-abu.

Program Studi Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar harus segera:

1. Menghentikan sikap bungkam dan menyampaikan posisi resmi secara terbuka kepada publik.

2. Mengambil langkah tegas dan terukur terhadap pelaku melalui mekanisme institusional.

3. Menunjukkan keberpihakan yang jelas pada nilai etika, keadilan, dan perlindungan terhadap korban.

4. Memulihkan kepercayaan mahasiswa dengan memastikan bahwa tindakan tidak bermoral tidak akan pernah ditoleransi di ruang akademik.

Jika sikap diam ini terus dipertahankan, maka publik berhak menilai bahwa institusi telah gagal menjalankan tanggung jawab moralnya. Dan ketika institusi gagal, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan, tetapi juga legitimasi.

Ini bukan sekadar persoalan individu. Ini adalah ujian bagi integritas institusi.

Dan dalam ujian ini,diam bukanlah pilihan yang netral melainkan bentuk kegagalan.

Berita Terkait

JAS Bongkar Rekam Jejak PT Karya Pembangunan Rezki: Delapan Paket Proyek Kemenhub Lebih dari Rp500 Miliar, Mantan Direktur Pernah Masuk DPO Kasus Korupsi
MANAJEMEN RSI FAISAL DINILAI INGKARI JANJI, ALIANSI MAHASISWA DAN PEMUDA WIJA TO BONE SIAP KEMBALI GELAR AKSI UNJUK RASA
SERAGAM BUKAN TAMENG KEKEBALAN HUKUM! LKBHMI PB HMI: COPOT KAPOLDA JATENG DAN DIRRESKRIMUM, BONGKAR DUGAAN REPRESI APARAT DI PONPES HAMALATUL QUR’AN!
KABID PPPD KEPMI BONE SOROTI FENOMENA KONTEN PORNOGRAFI DI MEDIA SOSIAL: DINILAI MERUSAK RUANG EDUKASI DAN MEMENGARUHI POLA PIKIR GENERASI MUDA
Warga Padati Grand Opening, Browcyl Perkenalkan Outlet ke-27 di Makassar
Sengketa Lahan SD Negeri Timbuseng II, Warga Harapkan Penyelesaian dari Pemerintah Kota Makassar
Dampak Asap Karhutla Sampai Ke Makassar, Organisasi Kesehatan Hipoglossus Foundation (H9F) Bagikan Masker Dan Flayer Ke Beberapa SD Negeri di Makassar
BEM NUSANTARA SULAWESI SELATAN BANTAH PERNYATAAN MENKES: “JANGAN SURUH RAKYAT BERADAPTASI DENGAN ASAP, SURUH NEGARA BEKERJA!”

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:33 WIB

JAS Bongkar Rekam Jejak PT Karya Pembangunan Rezki: Delapan Paket Proyek Kemenhub Lebih dari Rp500 Miliar, Mantan Direktur Pernah Masuk DPO Kasus Korupsi

Kamis, 5 November 2026 - 23:44 WIB

MANAJEMEN RSI FAISAL DINILAI INGKARI JANJI, ALIANSI MAHASISWA DAN PEMUDA WIJA TO BONE SIAP KEMBALI GELAR AKSI UNJUK RASA

Senin, 2 November 2026 - 16:47 WIB

SERAGAM BUKAN TAMENG KEKEBALAN HUKUM! LKBHMI PB HMI: COPOT KAPOLDA JATENG DAN DIRRESKRIMUM, BONGKAR DUGAAN REPRESI APARAT DI PONPES HAMALATUL QUR’AN!

Senin, 2 November 2026 - 00:05 WIB

KABID PPPD KEPMI BONE SOROTI FENOMENA KONTEN PORNOGRAFI DI MEDIA SOSIAL: DINILAI MERUSAK RUANG EDUKASI DAN MEMENGARUHI POLA PIKIR GENERASI MUDA

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Warga Padati Grand Opening, Browcyl Perkenalkan Outlet ke-27 di Makassar

Berita Terbaru