Menyikapi dinamika yang berkembang di Kota Makassar dalam momentum Agustus 2026, mahasiswa Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM) menyerukan pentingnya menjaga kondusivitas, ketertiban, serta ruang demokrasi agar tetap berjalan secara sehat dan bertanggung jawab.
Sunan, Wakil Menteri Kajian Aksi & Isu Strategis BEM FISEH UCM, mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi maupun provokasi yang berpotensi memperkeruh keadaan.
“Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi juga harus mampu menjaga suasana tetap kondusif. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya atau terprovokasi oleh pihak-pihak yang justru ingin menciptakan kegaduhan.”
Menurut Sunan, menjaga kondusivitas bukan berarti mahasiswa harus kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik. Aspirasi tetap dapat disampaikan melalui ruang-ruang demokrasi dengan mengedepankan argumentasi, data, dan cara-cara yang konstitusional.
Sementara itu, Farel, mahasiswa Universitas Cokroaminoto Makassar, mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak mudah terpecah oleh dinamika yang berkembang.
“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita saling berhadapan. Mahasiswa harus menjadi kelompok yang mampu membaca situasi dengan jernih, memastikan informasi sebelum menyebarkannya, dan tidak mudah terseret provokasi.”
Farel menilai bahwa masyarakat Kota Makassar membutuhkan ketenangan, khususnya dalam momentum yang sarat dengan dinamika sosial dan politik. Menurutnya, mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi dengan menjaga komunikasi dan mengedepankan sikap dewasa dalam menyikapi setiap persoalan.
Sunan dan Farel juga mengajak seluruh mahasiswa Universitas Cokroaminoto Makassar serta masyarakat Kota Makassar untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban, tanpa menghilangkan fungsi mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang tetap kritis terhadap berbagai persoalan publik.









