Hutan di Ujung Tanduk, Mahasiswa UNM Gelar Dialog Publik

- Jurnalis

Rabu, 10 Desember 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

anatomikata.co.id, Makassar — Krisis ekologis di Pulau Sumatera, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan menjadi sorotan utama dalam Dialog Publik Mahadipo (Mahasiswa di Bawah Pohon) yang digelar Mahasiswa Hukum dan Pemerhati Lingkungan FIK Universitas Negeri Makassar (UNM), Selasa, 10 Desember 2025. Acara bertema “Hutanku Kehidupanku atau Malapetaka” ini menghadirkan Maulana Yusuf, Achmad Yusran (Forum Komunitas Hijau) dan Ute Nurul Akbar (Maestro UNM)

Di hadapan peserta, Maulana memaparkan angka deforestasi yang kian mencemaskan. Data 2024 menunjukkan Indonesia kehilangan 261.575 hektare hutan, dengan Kalimantan Timur menyumbang 44.483 hektare, terdorong ekspansi tambang, pembangunan Ibu Kota Negara, dan industri hutan tanaman. Sulawesi, termasuk Sulsel kehilangan 17.361 hektare tutupan hutan, menambah rentetan bencana hidrologis di DAS Jeneberang dan Saddang.

“Jika hutan terus runtuh, Makassar akan berhadapan dengan krisis air, banjir musiman, dan kerusakan pesisir. Dampaknya bukan lagi ekologis, tapi langsung menimpa rumah tangga kita seperti bencana alam yang terjadi di Pulau Sumatera. Sementara regulasi begitu banyak, deforestasi terjadi tidak begitu saja, akan tetapi sudah terstruktur dan berlangsung lama,” ujar Maulana.

Baca Juga :  Memperingati May Day dan Hardiknas, GRD Demo: Gulingkan Prabowo–Gibran, Pukul Balik Rezim Militeristik

Lingkaran Krisis di Daerah

Dalam sesi diskusi, peserta menyinggung maraknya konflik ruang hidup dan lemahnya penegakan hukum atas penebangan liar. Catatan panitia menyebut sebagian besar titik deforestasi 2023–2025 berada di area konsesi korporasi, mulai tambang nikel hingga perkebunan sawit.

Di Sulsel, degradasi hutan di bagian hulu Maros dan Gowa memicu peningkatan banjir dan sedimentasi Bendungan Bili-Bili. “Hutan kita habis tapi beban sosialnya menumpuk,” kata salah satu peserta diskusi.

Hutan sebagai Ruang Pemulihan

Menariknya, dialog juga menyoroti peran hutan sebagai ruang pemulihan kesehatan. Mahasiswa mengaitkan kerusakan hutan dengan hilangnya akses healing forest, praktik terapi yang memadukan aktivitas fisik dan paparan alam. Konsep ini kian relevan bagi kota besar seperti Makassar yang menghadapi stres urban dan polusi udara.

Baca Juga :  Merawat Soliditas Perempuan, Srikandi APPI Kecamatan Makassar Perkuat Konsolidasi hingga Tingkat Kelurahan

Ketua LSM Lingkungan Hidup, Forum Komunitas Hijau Achmad Yusran mengingatkan, bahwa hutan bukan hanya penyedia jasa ekologi, tetapi juga “penyangga kesehatan fisik-mental yang tak tergantikan.”

Sementara itu Ute Nurul Akbar menyoroti perilaku konsumtif tentang penggunaan tisu oleh mahasiswa. Karena sumber bahan baku tisu datangnya dari hasil hutan. “Jadi memang harus menjaga dan merawat kelestarian lingkungan, domulai dari diri sendiri, termasuk merawat hutan sebagai sumber kehidupan generasi masa depan bangsa,” kata Ute.

Tuntutan Aksi dan Kolaborasi

Dialog ditutup dengan seruan bersama agar pemerintah daerah memperketat pengawasan izin tambang, memperluas restorasi DAS kritis, serta membuka ruang kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan lembaga lingkungan. Mahasiswa menegaskan komitmen untuk terus mengawal isu kehutanan melalui riset, edukasi publik, dan advokasi kampus.

“Hutan bisa menjadi kehidupan, atau berubah menjadi malapetaka. Pilihan itu ada pada cara kita menjaganya hari ini,” ujar Maulana Yusuf. (*)

Berita Terkait

Wujud Ikhtiar Hadapi Kemarau, PC LDII Tamalate Gelar Sholat Istisqo Bersama Pemerintah dan Pimpinan Wilayah
Outlet ke-25 Browcyl Hadir di Villa Mutiara, Ratusan Paket Promo Disiapkan
POLEMIK FOTO KECOA DIMENU MBG, PIHAK SPPG TAKALAR PATTALLASSANG KALABBIRANG 01 ANGKAT BICARA
Dua Periode Bupati, Adik Jadi Bupati, Basli Ali Punya Modal Kuat Membidik Senayan 2029
Walikota Makassar Beri Kuliah Umum di Universitas Cokroaminoto Makassar
ALIANSI MAHASISWA UNIVERSITAS WIRA BHAKTI SOROT KRISIS ENERGI DI MAKASSAR “ENERGI KRISIS, DOMPET KRITIS, PEJABAT NARSIS”
Aksi BBM Berujung Darah, Kader HMI Makassar Diduga Dipukul Oknum Polisi di Pertamina Patra Niaga ‎
SPMP Desak APH Untuk Segera Mengusut Kerjasama Pengelolaan Parkir RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 16:28 WIB

Wujud Ikhtiar Hadapi Kemarau, PC LDII Tamalate Gelar Sholat Istisqo Bersama Pemerintah dan Pimpinan Wilayah

Jumat, 18 September 2026 - 17:13 WIB

Outlet ke-25 Browcyl Hadir di Villa Mutiara, Ratusan Paket Promo Disiapkan

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

POLEMIK FOTO KECOA DIMENU MBG, PIHAK SPPG TAKALAR PATTALLASSANG KALABBIRANG 01 ANGKAT BICARA

Kamis, 17 September 2026 - 19:57 WIB

Dua Periode Bupati, Adik Jadi Bupati, Basli Ali Punya Modal Kuat Membidik Senayan 2029

Rabu, 16 September 2026 - 20:47 WIB

Walikota Makassar Beri Kuliah Umum di Universitas Cokroaminoto Makassar

Berita Terbaru