anatomikata.co.id, Sulsel – Kasus penyiraman air keras terhadap Andri Yunus bukan sekadar tindak kriminal biasa ini adalah bentuk teror yang diduga kuat dirancang secara sistematis.
Penangkapan empat orang pelaku yang disebut berasal dari unsur Bais TNI belum cukup menjawab rasa keadilan publik. Justru, hal ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar: siapa otak di balik aksi keji ini?
Publik tidak boleh disuguhi penegakan hukum yang setengah jalan. Pola kejadian yang terstruktur, pemilihan target yang spesifik, hingga eksekusi yang terencana, mengindikasikan bahwa peristiwa ini bukan aksi spontan. Ada dugaan kuat bahwa pelaku lapangan hanyalah bagian kecil dari skenario yang lebih besar.
Muh Ikbal, selaku Ketua Bidang Politik, Hukum, dan Demokrasi Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia, dengan tegas menyampaikan bahwa aparat penegak hukum harus berani menembus hingga ke aktor intelektual.
“Kami mendesak agar pengusutan kasus ini tidak berhenti pada pelaku lapangan. Kuat dugaan ada aktor intelektual yang mendesain peristiwa ini. Jika hukum hanya menyentuh eksekutor, maka keadilan sejati tidak akan pernah tercapai,” tegas Muh Ikbal.
Ia juga menekankan bahwa transparansi dan keberanian aparat menjadi kunci utama dalam membongkar kasus ini secara utuh. Menurutnya, jika ada upaya pembatasan dalam pengungkapan fakta, maka hal tersebut justru akan merusak kepercayaan publik terhadap institusi hukum.
Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi penegakan hukum di Indonesia. Apakah hukum benar-benar tajam ke atas dan ke bawah, atau justru tumpul ketika berhadapan dengan kekuatan tertentu?
Masyarakat menunggu, bukan hanya siapa yang mengeksekusi tetapi siapa yang memerintahkan.









